UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797
@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster
binmuhsin_group@yahoo.co.id

===

SURABAYA | SURYA-Sepiring kecil daging rica-rica dengan nasi sanggup membuat keringat bercucuran. Yang suka pedas bisa minta olahan spesial pedas atau menambah sambal yang disediakan di meja. Ditemani segelas es jeruk atau jeruk hangat yang bisa melarutkan pedas dan lemak, lengkap sudah sajian ini.

Yang membuat istimewa, daging rica-rica ini dibuat dari daging biawak. Jangan bayangkan daging dipotong lengkap dengan kulitnya yang kasar. Tentu tidak. Daging yang dipotong kecil ini sangat empuk, jauh berbeda dengan tampilan biawak saat hidup liar di sungai.

Ada beberapa tempat makan nyempil yang menyediakan daging biawak. Tetapi daging yang satu ini belum tentu setiap hari tersedia. Salah satu tempat makan yang menyediakan menu istimewa ini ada di daerah Perak Timur. On Laponta, begitu orang mengenalnya. Dalam bahasa Batak ini berarti warungku.

Semua hidangannya khas Manado dan Batak. Meski umurnya baru tujuh hari, tempat makan ini langsung menjadi bahan pembicaraan di antara penyuka makanan Manado dan Batak, juga makanan yang terdengar aneh di telinga. Salah satunya daging biawak.

Berbeda dengan tempat makan daging biawak yang biasanya seadanya, tempat makan ini cukup nyaman karena berpendingin udara. Jadi, meski olahannya pedas, keringat akan diusir oleh hawa sejuk.
Di antara deretan masakan Manado dan Batak, ada dua jenis yang menjadi incaran.

Daging biawak dan musang. Lorensia Sri Rahayu, pemilik sekaligus pengelola rumah makan ini menyebut sebagian besar konsumen memang datang untuk menikmati daging biawak. ”Ada yang sekadar ingin mencoba tetapi ada juga yang sudah biasa makan daging tersebut di tempat asalnya,” ujarnya.

Jujur diakuinya, saat awal mendirikan rumah makan ini dia hanya berpikir untuk menyediakan makanan yang unik. “Saya ingin tampil beda dengan rumah makan lain di Surabaya khusus di kawasan Tanjung Perak. Pilihan saya akhirnya jatuh pada sajian daginb biawak dan musang,” ujarnya.

Biawak disuplai dari kenalannya yangg mampu menyiapkan biawak secara rutin. Jika daging biawak sudah hampir habis, dia langsung memesan dan orang itu setiap saat membawakan. Agar tidak merepotkan dia minta agar biawak itu sudah dikuliti. Setelah dikuliti, rata-rata beratnya 5 kilogram. Setiap ekor dia beli Rp 50.000. Setelah diolah, hasil penjualan Rp 300.000.

Saat ini musang belum diminati. Jika ada yang berminat tentu akan disiapkan daguing musang,” ujarnya. Minyak biawak, tambah Lorensia, bisa digunakan mengobati gatal-gatal, alergi, menghaluskan kulit, mengobati luka bakar, dan mengencangkan payudara.

Rima Melati, karyawati PT Dokai Ekspor Impor, mengaku pernah mencicipi daging biawak. “Dagingnya enak dan empuk seperti daging kuda,” ujarnya. Biasanya dia membeli untuk dimakan ramai-ramai dengan teman-temannya.

Sementara itu, Jony, asal Waingpau, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, yang kemarin datang, makan daging biawak bukan hal baru. Di Sumba, daging biawak menjadi santapan harian. Tetapi sejak di Surabaya 10 tahun lalu dia tak pernah mencicipi olahan binatang melata ini. jos/JOSEF SINTAR